Powered By Blogger

20/12/13

MANDALAWANGI – PANGRANGO

Senja ini, ketika matahari turun kedalam jurang2mu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu

walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku

aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua

“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya “tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
‘terimalah dan hadapilah

dan antara ransel2 kosong dan api unggun yang membara
aku terima ini semua
melampaui batas2 hutanmu, melampaui batas2 jurangmu

aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup

Jakarta 19-7-1966

Sebuah Tanya–Soe Hok Gie


Ahirnya semua akan tiba pada pada suatu hari yang biasa 
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui.
Apakah kau masih berbicara selembut dahulu 
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku.
(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, kenbah Mandalawangi.
kau dan aku tegak berdiri melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)
Apakah kau masih membelaiku selembut dahulu
ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra,
lebih dekat.
(lampu-lampu berkedipan di Jakarta yang sepi
kota kita berdua, yang tau dan terlena dalam mimpinya
kau dan aku berbicara tanpa kata, tanpa suara
ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)
apakah kau masih akan berkata
kudengar derap jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta
(haripun menjadi malam kulihat semuanya menjadi muram
wajah-wajah yang tidak kita kenal berbicara
dalam bahasa yang tidak kita mengerti
seperti kabut pagi itu)
manisku, aku akan jalan terus membawa kenangan-kenangan
dan harapan-harapan bersama hidup yang begitu biru.

Selasa, 1 April 1969

JENIS-JENIS SAMPAH SAAT DI GUNUNG

Jenis-jenis sampah saat mendaki dan proses terurai'nya oleh tanah:

1.Plastik terurai 10-20 tahun
2.Filter rokok terurai 10-12 tahun
3.Baju atau kaos terurai 20-30 tahun
4.Botol plastik terurai 50-80 tahun
5.Almunium terurai 80-100 tahun
6.Kaleng timah terurai 200-400 tahun
7.Sterofom tidak dapat terurai
8.Botol being/kaca tidak dapat terurai dan akan berubah menjadi fosil

05/12/13

teriakan Nurani Mantan Aktifis

Lagi, kukatakan bahwa Alam beserta isinya adalah korban keangkuhan "Manusia"...
sombong, rakus, dan enggan berdampingan dengan habitat lainnya..
mengatasnamakan ekonomi sebagai alasan utama atas eksploitasi Sumber daya alam
pedih mengiris bathin...merintih perih...isak tangis tak lagi kuasa ku bendung...
Harimau sumatra yang tak jelas lagi jumlahnya diambang kepunahan....
Perburuan Gajah hanya utk memuaskan keserakahan..
dan Nasib Orang Utan yang juga tak kalah memprihatinkan juga layak utk mendapat sorotan...
Hutan yang tak lagi rimbun....telah berubah menjadi lahan-lahan penghasil "Rupiah"

Aku,..berbicara hanya lewat beberapa huruf yang kugabungkan untuk menjadi sebuah halaman yang layak dibaca...
keterbatasanku yang tak lagi berada dilingkungan advokasi atau sejenisnya menjadikanku sebagai "Kambing Congek"..yang jelas tak mampu berbuat apa-apa selain himbauan semangat terhadap kawan-kawan aktivis yang masih berjuang untuk penyelamatan itu semua...teruslah kalian suarakan "Selamatkan Yang tersisa" !!!
..sekalipun diseberang sana atau dismpingmu mengatakan tindakanmu adalah hal sia-sia....
Bagiku, tak ada hal sia-sia...dari sekedar berpangku tangan membicarakan hal-hal tidak penting...

Coretanku kini menjadi sebuah teriakan nurani "Mantan Aktifis Lingkungan"...
duhai teman...aku tak lagi berada pada barisan perjuangan seperti kalian,,, namun tetap nuraniku adalah nurani "Aktifis".. .yang tak mungkin berubah...
Kelak, anak cucu kita hanya akan mengenal boneka-boneka "Harimau, gajah, dan Orang Utan" sebagai mainan mereka...tanpa menyaksikan dengan mata telanjang bahwa nusantara kaya akan itu semua...
dan pastinya mereka hanya akan mendengar cerita bahawa "Nusantara dulu memiliki Hutan Yang permai"...tanpa menyaksikan indahnya "Hijau" membentang dari Sabang sampai Merauke...mereka hanya akan menyaksikan Bumi yang berisi kotak-kotak bangunan yang menjulang tinggi..dan untuk beberapa waktu kemudian akan ditinggalkan sebagai "Kota Mati"...karna jelas tak ada lagi pemenuhan kebutuhan kehidupan di dalamnya...Eksploitasi telah menghabiskan isi Bumi..

Aaarrgghhh  !!! ..>_
geram..berang..mengepal tanganku...rasanya ingin kuhabisi mereka..ingin kukarungi mereka..dan kuteriakkan di telinga mereka dengan keras .."aku muak dengan kalian yang RAKUS !!!!"
Nuraniku menangis....
tak lagi mampu menyuarakan ataupun bertindak ke lokasi kejadian...menjadikanku benar-benar merasa tak berguna...
rasa malu...hadir diantara keterbatasanku...

Bersemangatlah kalian yang masih berjuang dalam barisan "Keaktifisan"...tetap dengan fakta "Alam layak dijaga"..."Selamatkan yang tersisa"...selalu hadirkan roh yang terbakar semangat dalam diri..hingga yang kalian lakukan adalah bukti nyata bahwa kalian juga "Pejuang"...pejuang atas isi bumi..
ini teriakanku..teriakan "Mantan Aktifis Lingkungan"...
Berjuanglah teman...
dan aq juga berjuang dengan caraku sendiri....
SAVE OUR EART !!!!

https://www.facebook.com/notes/muniey-kecil/teriakan-nurani-mantan-aktifis/10151021632191402

Biaya Pendakian tidak murah...berfikirlah ! (Rincian dana pendakianku)

Cost Pendakian yang pernah aku keluarkan,...tentunya semua biaya ini tidak serta merta aku keluarkan dengan gampang seperti memetik buah Mangga yang sudah siap di panen..ini semua butuh perjuangan dan kesabaran dalam menghimpun dana untuk bisa sampai pada puncak-puncak yang menjadi impian untukku kala itu...

1. kalau seputaran gunung Sumatra barat dulu itu range budgetnya Rp300.000 s.d Rp500.000..mentok2nya Rp 700.000 lah...sudah termasuk saving dana cadangan dan oleh2 + uang jajan Pak Leader...(2004 s.d 2009) ini masih bisa nyelip2 duit jajan sekolah dulu dari orang tua..atau saya masih bisa pake jempol kalo ternyata saya gak punya saving dana sesuai estimasi yang seharusnya....hehehe...ditahun 2006 sudah mulai bekerja sambil ngumpulin dana pendaftaran kuliah di tahun depannya..

2. Kalau diluar dari gunung Sumatra barat, misalnya Sumatra utara, Jambi, Sumatra selatan..itu save dana Rp750.000 s.d Rp 1.000.000..itu sudah termasuk dana cadangan dan saving biaya oleh2 + uang jajan Pak leader... (2007 s.d 2011 dari Pekanbaru, 3 bulan sekali pasti ndaki) ini jajan kuliah tidak dikeluarkan, jd kuliah ndakosah jajan, bawa bekal...tetapi difokuskan pada saving dana perjalanan, pas libur kuliah bisa jalan..hasil dari gaji ngajar les, Crew Outbound ditaman hiburan, dan kerja pokok sebagai staff administrasi pada bimbingan belajar, dan kerja lainnya yang bisa mencukupi..dan yang pasti telah disaving pula biaya hidup seperti : kredit motor, kredit laptop, dapur orang tua, bensin, dan biaya kuliah...dan itu WAJIB...

3. Kalimantan,,,cuma main ke Pontianak saja dan itu juga kebetulan (2011) Tiket Gratis..

4. Pulau Jawa via Udara..budget minimal Rp 2.000.000 sudah trmasuk cost jajan Pak leader + oleh2...(2012 dari Pekanbaru) di dapat dari saving dana dari Gaji...masih ngajar les..tapi sudah sebagai staff tata usaha di sebuah sekolah..

5. Pulau Lombok dan sekitar via udara Rp 5jt itu sudah keliling banyak objek + maen ke pulau2 kecil + oleh2 + cost jajan Pak leader (2012 dari Pekanbaru)..didapat dari tabungan sejak tahunn 2005 waktu masih SMA..celengan Ayam + tambahan gaji sedikit...(rinciannya : 3 jt tiket Pesawat PP (Pekanbaru-Lombok), 500rb utk Pak leader yang waktu itu udah termasuk logistik serta transport ke TKP, 500rb oleh2, 500rb biaya makan,ngemil,dll di gilitrawangan dan 500rb makan selama keliling ditempat lain juga termasuk biaya makan saya selama mondar mandir sampai akhirnya kembali ke bandara untuk pulang ke pekanbaru )

6. Pulau Sulawesi via udara Rp 5jt berdua...itu sudah termasuk transport darat + biaya makan selama keluyuran setelah ndaki gunung + oleh2..tapi tidak mengeluarkan biaya jasa leader...hehehe (2013 dari Jakarta) didapat dari saving dana simpanan yang tidak pernah diganggu gugat kebutuhannya waktu kerja di Pekanbaru + tambahan dari Suami sedikit....

7. Jakarta-jawa barat biasanya Rp 300.000 s.d Rp 500.000 berdua (tahun 2013)..tidak menggunakan biaya leader..

Nah, semuanya itu real rogoh kocek sendiri..bermodalkan Mimpi yang menjadi nyata atas kerja keras..catatan ini sengaja kutulis untuk memberikan motivasi pada generasi-generasi sekarang agar tidak mengandalkan orang tua sebagai ATM...bila berasal dari keluarga yang berada..tetapi bila berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja..maka milikilah management keuangan dengan sempurna agar "HOBI" tidak mengalahkan "KEWAJIBAN serta Tanggung Jawab"....menabunglah untuk yang masih sekolah....kuliah kerja untuk yang sedang kuliah...milikilah management waktu + management keuangan yang benar untuk yang fokus bekerja...agar tidak terjadi tumpang tindih sehingga merugikan diri sendiri...
Benar..mendaki gunung itu Hobi serta kebutuhan..tetapi kalau hobi mengalahkan segala yang wajib, maka sepertinya jiwa kita sedang sakit...sakit jiwa lebih tepatnya...

Ada kepentingan yang harus diprioritaskan..maka berfikir sebelum bertindak...biaya pendakian itu tidak murah..maka kita harus berfikir agar tidak ada yang dikesampingkan yang sebenarnya harus diprioritaskan..dahulukan mana yang lebih dulu...tekan ego..kembangkan rasa sabar..yakinlah semua indah pada waktunya..dan akhirnya kakikupun sampai pada semua puncak impianku..dan kalaupun sekarang ada yang belum itu karna masih berkomitmen "Ada kepentingan diatas kepentingan"...


Catatan : **biaya leader tidak pernah diminta oleh sang leader..melainkan itu hanya tanda terimakasih saja..ini knp dilakukan..krn sebagian mereka mengandalkan jasa ini sebagai pengepul dapur mereka...dan yakinlah, yang kita keluarkan pastinya tidak sebanding dengan apa yang mereka lakukan..dan sudah merupakan tanggung jwb kita untuk memberikan reward yang dapat dimanfaatkan bagi mereka....hal ini kulakukan juga karena aku mendaki tunggal waktu itu..jadi benar2 aku tidak mengenal wilayah apa lagi orang..aku hanya mengenal beliau2 itu saja sebagai orang yang kupercaya untuk menjagaku..mengantarku...
 https://www.facebook.com/notes/muniey-kecil/biaya-pendakian-tidak-murahberfikirlah-rincian-dana-pendakianku/10151480536321402

Kesalahan Mendaki Gunung Menurut Syari'at Islam....(Aku Jauh dari sempurna)

1. Berniat mendaki gunung untuk perkara-perkara yang diharamkan syariat, seperti:
- Kesyirikan : Untuk mengirimkan sesajen kepada sesembahan selain Allah (penghuni gunung, dewa/dewi, jin, setan, dan semisalnya), bertawassul, mencari/meminta wangsit, menyembelih, bernazar,  bertabarruk (mencari barakah) kepada jin, penghuni gunung, tempat keramat, atau orang yang sudah mati dan dikuburkan di gunung.
- Kebid'ahan : Untuk melakukan upacara, ritual atau acara2 yang bid'ah dan tidak disyariatkan di gunung, seperti Sedekah Gunung, Sedekah Bumi, Hari Ulang Tahun, dll.
- Kemaksiatan : Untuk melakukan perbuatan mesum atau maksiat di gunung, seperti yang terjadi di gunung Kemukus.

Dari Amir Mukminin Abi Hafsh Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Sesungguhnya segala amal tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang mendapatkan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya karena Allah dan rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang akan diraihnya atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang diniatkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Melakukan acara atau ritual 'Selamatan' sebelum mendaki gunung.
Biasanya acara ini dilakukan oleh pihak keluarga yang salah seorang keluarganya ada yang pergi mendaki gunung. Acara ini termasuk bid'ah yang mengada-ada.

Dari 'Aisyah radliyallâhu 'anha dia berkata, Rasulullah Shallallâhu 'alaihi Wa Sallam bersabda, "Barangsiapa yang mengada-ada (memperbuat sesuatu yang baru) di dalam urusan kami ini (agama) sesuatu yang bukan bersumber padanya (tidak disyari'atkan), maka ia tertolak." (HR.al-Bukhari)
Di dalam riwayat Imam Muslim dinyatakan, "Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang bukan termasuk urusan kami (agama), maka ia tertolak."

3. Memaksakan diri untuk pergi mendaki gunung walaupun tidak mendapat izin dan restu dari orangtua.
Seseorang datang kepada Nabi shalallahu 'alaihi wasallam meminta izin untuk pergi Jihad, maka Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bertanya kepadanya, "Apakah kedua ibu bapakmu masih hidup?"
Laki-laki itu menjawab, "Ya."
Maka Nabi shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tinggallah dengan kedua orangtuamu, maka itulah Jihadmu."

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, "Hadits di atas dijadikan dalil haramnya safar tanpa izin orangtua. Karena menakala Jihad dilarang, padahal keutamaannya sangat agung, maka safar yang mubah tentu lebih dilarang..." (Fathul Bari, VI/174).

4. Tidak memilih pemimpin atau ketua perjalanan.
Diriwayatkan dari Abu Sa'id al Khudri, bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Jika tiga orang keluar untuk bepergian, maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka untuk menjadi pemimpin." (Shahih Abi Dawud, no. 2608).

5. Mampir untuk meminta izin dan keselamatan kepada kuncen atau juru kunci gunung tersebut.
Ini adalah perkara yang membahayakan aqidah dan bisa terjerumus kepada perbuatan Syirik Akbar. Berbeda halnya jika meminta izin kepada petugas khusus yang berwenang dalam masalah ini, maka hal ini dibolehkan, bahkan bisa diwajibkan.
Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman, "Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan." (al Fatihah: 5)
Dan sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:
"Apabila kamu meminta, maka mintalah kepada Allah dan bila kamu minta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah." (HR.Tirmidzi: Hasan Shahih).
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, "Allah berfirman: Aku tidak butuh pada sekutu-sekutu itu, barangsiapa yang beramal dengan amalnya itu dia mempersekutukan Aku dengan yang lainnya, maka akan Ku-tinggalkan dia bersama sekutunya." (HR.Muslim)

6. Mempercayai dan menyakini adanya cerita-cerita khurafat, mistis, tahayul di gunung dan yang menyalahi ajaran Islam.
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Zaid bin Khalid Radhiyallahu 'anhu, katanya: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah mengimami kami dalam shalat Shubuh di Hudaibiyah setelah semalamnya turun hujan. Ketika usai shalat, beliau menghadap kepada orang-orang lantas bersabda: "Tahukah kamu apa yang difirmankan oleh Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui." Beliau pun bersabda: "Dia berfirman: Pagi ini di antara hamba-hamba-Ku ada yang beriman dan ada pula yang kafir. Adapun orang yang mengatakan: 'Telah turun hujan kepada kita berkat karunia dan rahmat Tuhan, dia beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang'. Sedangkan orang yang mengatakan: 'Telah turun hujan kepada kita karena bintang ini, atau bintang itu', dia kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang."

7. Membawa barang-barang yang diharamkan selama pendakian dan menggunakannya, seperti jimat, khamer (minuman keras), alat musik, rokok, lonceng, dll.
Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Malaikat tidak akan menyertai rombongan yang di dalamnya ada anjing dan lonceng." (HR: Bukhari).

8. Wanita safar tanpa didampingi oleh mahramnya.
Dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir melakukan perjalanan sejauh sehari semalam kecuali bersama seorang mahram." (HR: Bukhari dan Muslim).

9. Ikhtilath (bercampur baur antara laki-laki dengan wanita yang bukan mahram) dan khalwat (berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahram) selama pendakian, apalagi jika sampai satu tenda.
Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Jangan sekali-kali salah seorang dari kamu bersendirian dengan seorang wanita kecuali bersama mahramnya." (HR: Bukhari dan Muslim).

10. Meninggalkan kewajiban agama seperti shalat yang lima waktu, walaupun dalam kondisi yang memberatkan dan menyulitkan.
Dari Jabir bin Abdillah Radhiallaahu anhu Rasulullah Shalallaahu alaihi wa Sallam bersabda, “ Pemisah antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah dengan meninggalkan shalat” (HR: Muslim)
“Perjanjian antara kita dengan mereka (orang kafir) adalah shalat, barangsiapa meninggalkannya sungguh dia telah kafir.” (HR: Ahmad, At-Turmudzi, An-Nasa’i dan yang lainnya)

11. Tidak menjama' dan mengqashar shalat selama pendakian jika ia seorang musafir.
Dari Ibnu Abbas, ia berkata, "Melalui lisan Nabi kalian, Allah mewajibkan kalian shalat empat rakaat saat mukim, dua rakaat ketika bepergian, dan satu rakaat di kala takut." (Hadits Shahih. HR: Muslim, Ibnu Majah, Abu Dawud, An Nasa'i).

Dari Ibnu Umar, dia berkata, "Aku pernah menyertai perjalanan Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam. Beliau tidak pernah shalat lebih dari dua rakaat hingga wafat. Aku juga pernah menyertai perjalanan Abu Bakar. Dia tidak pernah shalat lebih dari dua rakaat hingga wafat. Aku juga pernah menyertai perjalanan Umar. Dia tidak pernah shalat lebih dari dua rakaat hingga wafat. Selain itu, aku juga pernah menyertai perjalanan Utsman. Dia tidak pernah shalat lebih dari dua rakaat hingga wafat..." (HR: Muttafaqun 'alaih).

12. Sudah menjama' dan mengqashar shalat sebelum meninggalkan tempat kediamannya atau sebelum memasuki daerah lain jika ia hendak safar.
Anas berkata, "Aku shalat zhuhur empat rakaat bersama Nabi di Madinah. Adapun di Dzul Hulaifah, kami shalat dua rakaat." (HR: Bukhari, Muslim, Abu Dawud).
Ibnul Mundzir berkata, "Aku tidak tahu bahwa Nabi pernah mengqashar shalat pada setiap safarnya melainkan setelah meninggalkan Madinah." (Fiqhus Sunnah, I/240, 241).

13. Tidak mengetahui tata cara menjama' dan mengqashar shalat.

14. Tidak mengetahui tata cara tayammum.
Dari Abu Dzar bahwasanya Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Sesungguhnya tanah yang suci adalah alat bersuci bagi seorang muslim sekalipun dia tidak mendapatkan air sepuluh tahun." (HR. Nasa'i (321), Tirmidzi (124), Abu Dawud (332), Ahmad (5/160). Tirmidzi berkata, "Hadits hasan shahih.")

15. Memaksakan bersuci dengan air padahal persediaan air terbatas dan kurang.
Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Artinya : Mudahkanlah, janganlah mempersulit dan membikin manusia lari (dari kebenaran) dan saling membantulah (dalam melaksanakan tugas) dan jangan berselisih" (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim).

16. Berpakaian dengan menampakkan aurat selama pendakian.
 Yaitu laki-laki berpakaian yang menampakkan paha atau bagian dibawah pusarnya, begitu juga isbal (memanjangkan pakaian di bawah mata kaki) bagi laki-laki, sedangkan untuk wanita berpakaian tanpa hijab/jilbab syar'i, memakai pakaian ketat dan celana panjang.
Dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda, "Artinya : Tidak diperbolehkan bagi orang laki-laki melihat aurat laki-laki, dan wanita melihat aurat wanita..." (Hadits Riwayat Muslim).

17. Mengotori dan merusak lingkungan, seperti:
- Membuang sampah sembarangan dan tidak membawa turun sampah yang dibawanya.
- Mengotori sumber air.
- Mencemari air, tanah dan udara dalam jangka lama.
- Mencorat-coret batu, pohon, pos shelter.
- Menebang pohon tanpa batas dan berlebihan.
- Mengambil atau mencuri flora dan fauna yang langka tanpa izin dan yang terlarang.
- Lalai dan sembrono hingga mengakibatkan kebakaran hutan dan savana.
- dll.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, yang artinya:
"Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan." (Qs.Al A'raf: 56).
" Dan apabila dia berpaling (dari kamu), dia berjalan di bumi untuk mengadakan kerusakan padanya, dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, padahal Allah tidak menyukai kebinasaan." (QS. Al Baqarah: 205).

18. Buang hajat (Buang Air Kecil dan Buang Air Besar) di tempat umum, tempat-tempat yang dilalui manusia, dan di sumber air atau yang tidak mengalir.
Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Jauhilah oleh kalian dua hal yang bisa mendatangkan laknat!" Mereka bertanya, "Apakah dua hal itu wahai Rasul?" Beliau bersabda, "Orang yang buang hajat di jalanan umum, atau di tempat teduh mereka." (HR: Muslim).
Dari Jabir, sesungguhnya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam melarang buang air kecil di air yang diam (tidak mengalir)." (HR: Muslim).

19. Tidak memadamkan api ketika hendak tidur atau pergi.
Dari Ibnu Umar, dari Nabi shalallahu 'alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda, "Jangan kalian membiarkan api menyala di rumah kalian ketika kalian tidur!" (HR: Bukhari dan Muslim).

20. Tidur beramai-ramai dalam satu selimut.
Dari Abu Said Al-Khudri Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda, "Artinya : ...Dan tidak boleh seorang laki-laki dengan orang laki-laki lain dalam satu selimut, dan wanita dengan wanita lain dalam satu selimut". (Hadits Riwayat Muslim).

21. Bercerai berai dan berpisah diri dari kelompoknya ketika singgah di suatu tempat.
Diriwayatkan dari Abu Tsa'labah, bahwa ketika suatu saat Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam singgah (disuatu tempat), maka para Shahabat memilih tempat berhenti yang terpisah-pisah. Maka beliau shalallahu 'alaihi wassallam bersabda, "Sesungguhnya terpisah-pisahnya kalian di celah gunung dan lembah ini dari syaithan." (Shahih Abi Dawud, no. 2628).

22. Tidak membagi atau memakan makanan secara adil ketika makan bersama-sama dalam kelompoknya, kecuali jika sudah diizinkan oleh sahabat-sahabatnya.
Dari Jabalah ibn Suhaim, dia berkata, "Kami mengalami musim Paceklik bersama Ibnu Zubair, tiba-tiba kami mendapat rizki kurma. Waktu Abdullah bin Umar lewat, kami sedang makan, maka dia berkata, "Jangan kalian makan dua butir kurma sekaligus karena Nabi shalallahu 'alaihi wasallam melarang perbuatan qiran tersebut"; kemudian dia berkata, "Kecuali orang itu minta izin kepada kawannya."(HR: Bukhari dan Muslim).

23. Mencela cuaca (angin, hujan, dingin, panas, dsb) di gunung.
Firman Allah Ta'ala (artinya): "Dan kamu membalas rezeki (yang telah dikaruniakan Allah) kepadamu dengan mengatakan perkataan yang tidak benar." (Al-Waqi'ah: 82)
Dari Abu Hurairah, dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Angin itu termasuk rahmat Allah, dia datang membawa rahmat, dan bisa juga membawa adzab (siksa), maka jika kalian melihatnya janganlah kalian mencelanya, dan mintalah (kepada Allah) kebaikan yang dibawanya, serta berlindunglah dari kejahatan yang ditimbulkannya." (HR: Abu Daud dengan sanad hasan).

24. Sombong tatkala mendaki gunung.
Allah Ta'ala berfirman, "Janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung." (QS. Al Isra': 37).

25. Tidak mentaati ketua atau pemimpin rombongan, kecuali jika disuruh bermaksiat dan melanggar peraturan.
Dari Abdullah bin Umar dari Nabi shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Wajib bagi setiap muslim untuk mendengar dan taat (kepada pemimpin), baik dalam perkara yang dia senangi maupun yang dia benci, kecuali kalau dia diperintah dalam perkara maksiat, maka dia tidak boleh mendengar atau taat." (HR. Bukhari 4/329 Musnad 3/1469)

26. Tidak mempersiapkan dan membekali diri dengan baik karena merasa sudah biasa dan mampu, sehingga bisa memudharatkan diri sendiri bahkan bisa membunuh diri sendiri.
Karena tidak dipungkiri bahwa naik gunung itu termasuk kegiatan beresiko, selain itu juga bisa merepotkan dan menyusahkan teman.
Allah Ta'ala berfirman, "…dan janganlah kamu menjerumuskan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan." (QS Al-Baqarah: 195)
Rasulullah shalallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidak boleh memudharatkan diri sendiri dan memudharatkan orang lain." (HR Malik II/745)

Tuhan Bersama Pendaki Gunung


Cinta Mereka Bersatu Di Ketinggian

jangan katakan pada dingin'nya MERBABU,
bahwa aku satu"nya orang yang menyayangi'mu..... 
jangan katakan pada terjal'nya MERAPI
bahwa aku satu"nya orang yg pantas untuk'mu.... 
jangan katakan pada tinggi'nya SEMERU
bahwa aku satu"nya orang yang bisa membahagiakan'mu..... 
jangan katakan pada gelap'nya LAWU
bahwa aku satu"nya orang yang ada di harapan'mu....  
jangan katakan pada sejuk'nya SINDORO,nyaman'nya SUMBING, dan tentram'nya SLAMET,
bahwa aku satu" orang yang di butuhkan oleh'mu..... 
tapi aku mohon pada'mu katakanlah pada indah'nya RINJANI,
bahwa aku satu"nya orang yang tidak pernah mebuat'mu menangis dan mencintai'mu sampai ahir hayat'ku......

perbedaan itulah yang menyatatukan kami..........

 "YULI PRASETYO dan INDAH AYUNINGTYAS"

04/12/13

HIPOTERMIA

Dalam berbagai pendakian gunung yg saya lakukan, baik dlm tim kecil atau pun pendakian massal sekitar 40 org anak2 manis yg ndak pernah ndaki gunung, hal2 yg saya amati ketika seseorang terkena hiportemia adalah :
Gejala dan Indikasi Penyakit Hipotermia
# Hipotermia diawali dengan gejala kedinginan spt biasa, dari badan gemetaran menahan dingin sampe gigi berkerotakan kerna ndak kuat nahan dingin.
# Bila tubuh korban basah, maka serangan hiportemia akan semakin cepat dan hebat.
# Selain itu bila angin bertiup kencang, maka pendaki akan cepat sekali kehilangan panas tubuhnya (”faktor wind cill” kalo ndak salah). Jadi kalo badan basah kuyub kehujanan dan angin bertiup kencang, maka potensi hipotermia menjadi “paradoxical feeling of warmt” akan semakin cepat terjadi.
# Puncak dari gejala hipotermia adalah korban tidak lagi merasa kedinginan, tapi dia malah merasa kepanasan (dlm bukunya Norman Edwin disebut “paradoxical feeling of warmt” kalo ndak salah). Oleh karena itu si korban akan melepas bajunya satu per satu sampe bugil dan tetap masih merasa kepanasan.
# Hipotermia menyerang saraf dan bergerak dg pelan, oleh karena itu sang korban tidak merasa kalo dia menjadi korban hipotermia. Dari sejak korban tidak bisa nahan kedinginan sampe malah merasa kepanasan di tengah udara yg terasa membekukan, korban biasanya tidak sadar kalo dia telah terserang hipotermia. Dalam hal ini kawan seperjalanan (terutama team leader atau kawan pendaki yg lebih pengalaman) sangat penting artinya utk mengawasi apakah kawan2 kita ada yg sakit (hipotermia, frostbite, mountain sickness, stress, dll). Jadi kalo ada kawan2 seperjalanan kita mulai bertingkah aneh2 yg di luar kebiasaannya, maka kita patut curiga dan waspada ada apa dg dia dan tentu saja perlu segera memeriksa atau menanyai apakah dia masih “sadar” atau tidak.

# Dalam kasus penderita hipotermia yg sampe pada taraf “paradoxical feeling of warmt” selain merasa kepanasan dia juga terkena halusinasi. Akan tetapi, dlm banyak hal lainnya, halusinasi juga telah terjadi walau si korban tdk sampe mengalami “paradoxical feeling of warmt”. Yang jelas, ketika si korban hipotermia sudah kehilangan “kesadaran”, maka dia akan mudah terkena halusinasi. Dan faktor halusinasi ini yg sangat berbahaya karena korban akan “melihat bermacam2 hal” dan dia akan mengejar apa yg dilihatnya itu tanpa menghiraukan apa2 yg ada di hadapannya. Jadi tidaklah mengherankan kalo banyak korban hipotermia ditemukan jatuh ke jurang dlm kondisi telanjang bulat dan telah meninggal dunia.
# Lalu bagaimana cara mengatasi kalo ada kawan kita yg terkena hipotermia? Kalo taraf hipotermianya ringan masih mudah ditangani, tapi kalo sudah mulai bertelanjang dan berlari2 atau berteriak2 mengejar halusinasinya akan susah sekali penangannya. Yang mudah dan praktis adalah melakukan tindakan pencegahan thd penyakit hipotermia.
Tindakan2 Pencegahan Penyakit Hipotermia
# Bila kita melakukan kegiatan luar ruangan (pendakian gunung khususnya) pada musim hujan atau di daerah dg curah hujan tinggi, maka membawa ponco/raincoat adalah suatu keharusan. Selain mbawa jas hujan, pakaian hangat (jaket tahan air dan tahan angin, kalo perlu) dan pakaian ganti yg berlebih dua tiga stel, serta kaus tangan dan kerpus/balaclava/topi ninja juga sangat penting. Perlengkapan yg tidak kalah pentingnya adalah sepatu pendakian yg baik dan dpt menutupi sampe mata kaki, jangan pake sendal gunung atau bahkan jangan pake sendal jepit. Naik gunung pada musim hujan bukan utk gagah2an aja.
# Bawa makanan yg cepat dibakar menjadi kalori, spt gula jawa, enting2 kacang, coklat dll. Dalam perjalanan banyak “ngemil” utk mengganti energi yg hilang.
# Bila angin bertiup kencang, maka segeralah memakai perlengkapan pakaian hangat, spt jaket, kerpus/balaclava dan kaus tangan. Kehilangan panas tubuh akibat faktor “wind cill” tidak terasa oleh kita, dan tahu2 aja kita jatuh sakit.
# Bila hujan mulai turun bersegeralah memakai jas hujan, jangan menunggu hujan menjadi deras. Cuaca di gunung tdk dpt diduga. Hindari pakaian basah kena hujan.
# Bila merasa dirinya lemah atau kurang kuat dalam tim, sebaiknya terus terang pada team leader atau anggota seperjalanan yg lebih pengalaman utk mengawasi dan membantu bila dirasa perlu.
# Dont worry, be happy selalu dalam perjalanan. Semangat dan jangan gampang menyerah bila kondisi mulai memburuk.

Udah ini aja dulu. Capek ngetiknya.
Sebenarnya masih ada pengalaman ketika menangani korban hipotermia, baik hipo yg ringan maupun hipo berat; tapi ntar disambung lain kali aja yah.
Semoga berguna.

17 agustus 2013 in semeru


Tak terbayangkan, jika saya mendapat tugas "MENGIBARKAN SANG MERAH PUTIH DI PUNCAK EVEREST"

26 APRIL 1997 adalah hari yang sangat penting dalam sejarah Indonesia. Pada hari itu, putra-putra terbaik bangsa ini berhasil memancangkan Sang Saka Merah Putih di puncak Everest (8.848 m dpl.), tempat paling tinggi di dunia dan sering dianggap sebagai simbol ketangguhan suatu bangsa. Di Asia Tenggara, dan di antara negara-negara yang berada di lintang tropika, Indonesia adalah negara pertama yang mampu melakukannya. Bukankah itu sebuah kebanggaan nasional?
Pada 25 Oktober 2002, saya menghadiri presentasi tentang ekspedisi itu di PUSDIKPASSUS Batujajar, Bandung. Misirin―satu dari dua anggota Tim Indonesia yang berhasil mencapai puncak Everest―hadir di sana dan mengisahkan perjalanan mahaberat itu kepada kami semua. Di akhir presentasi, Ia mengeluarkan lima buah buku berjudul “Di Puncak Himalaya Merah Putih Kukibarkan.” Saya sangat beruntung karena―dengan menjawab sebuah pertanyaan―bisa mendapatkan satu di antaranya. Dari buku itu saya mengetahui bagaimana sikap patriotik para pendaki gunung Indonesia yang rela mati demi mengangkat nama baik bangsa, meskipun beberapa tahun kemudian, perjuangan dan nama mereka (mungkin) terlupakan atau sama sekali belum pernah kita dengar!

Tim Ekspedisi Everest Indonesia yang merupakan gabungan dari pendaki-pendaki sipil (Wanadri, Mapala UI, FPTI, Rakata) dan militer (KOPASSUS)―yang sebagian besar belum pernah melihat dan menyentuh salju―berangkat menuju Nepal pada akhir Desember 1996. Setelah beberapa hari beristirahat di Kathmandu, mereka langsung mengikuti latihan yang sekaligus merupakan seleksi untuk mereka yang akan diikutsertakan dalam pendakian Everest pada bulan Aprill 1997. Seleksi pertama dilakukan di Paldor Peak (5. 928 m dpl.), dilanjutkan dengan seleksi kedua di Island Peak (6.189 m dpl.). Di bawah bimbingan pelatih, Anatoli Boukreev (39, Rusia), Vladimir Baskirov (44, Rusia), Evgenie Vinogradsky (52, Rusia), pendaki-pendaki itu belajar mengenal gunung es dan mempelajari teknik mendakinya. Kegembiraan saat pertama kali melihat hamparan es dan menginjak butir-butir salju, konon mereka ekspresikan dengan berlari-lari seperti anak-anak, duduk di atas bongkahan es, atau saling melempar dengan bubuk salju sambil berteriak-teriak. Sangat pantas jika banyak pendaki asing yang mencibir, atau bahkan melontarkan pertanyaan sinis: benarkah orang-orang seperti ini akan mendaki Everest?
Namun, pendaki gunung Indonesia adalah orang-orang yang sangat menyadari di mana titik kelemahan mereka. Kesadaran akan keterbatasan fisik, waktu persiapan yang sangat singkat (enam bulan), dan pengalaman yang sangat miskin, melahirkan keputusan untuk memakai pelatih terbaik, Sherpa (pemandu yang terdiri dari pembuka jalur, pengangkut barang, dan pemasak) terbaik, dan peralatan pendakian terbaik di dunia. Kesadaran akan titik lemah itu ternyata dimiliki pula oleh Anatoli Boukreev yang dipilih sebagai pelatih. Selain memahami pendaki macam apa yang akan dibimbingnya, ia pun menyadari kelemahan dirinya sendiri. Boukreev adalah pemandu gunung yang sangat handal, namun ia merasa kurang pandai dalam perkara manajemen pendakian dan kurang luwes dalam berhubungan dengan anggota tim. Konon, Ia mengakui hal itu dengan mengatakan “I wanted…..some balanche for my rather difficult personality.” Itulah yang membuatnya meminta didampingi oleh pelatih lain yang dianggap cakap. Kesadaran-kesadaran itu, baik dalam diri pendaki Indonesia maupun pelatihnya, ternyata mampu melahirkan keputusan-keputusan dan strategi tepat yang mengantarkan mereka meraih puncak.
Waktu yang sedikit itu terus mereka gunakan untuk berlatih, mendongkrak kualitas fisik dan teknik dengan dilandasi semangat yang terus berkobar. Mereka tahu bahwa sebuah tim ekspedisi Everest negara lain, yang terdiri dari pendaki-pendaki profesional, biasanya memerlukan waktu sekitar dua tahun untuk berlatih, seperti halnya Malaysia yang pada saat itu juga tengah mempersiapkan pendakiannya. Tercatatnya Malaysia sebagai salah satu tim ekspedisi di musim pendakian 1997 kian memperbesar tekad.
Dalam ekspedisi ini, Tim Indonesia dibagi menjadi dua: tim yang mendaki dari jalur selatan (Nepal), dan tim yang mendaki dari jalur utara (Tibet). Tim selatan terdiri dari 10 pendaki, 2 pendukung, 3 pelatih dan 20 Sherpa. Sedangkan tim utara terdiri dari 6 pendaki, 2 pendukung, 1 pelatih (Riszhard Pawlowsky (44), Polandia) dan 15 Sherpa. Dengan dua tim dari dua jalur yang berbeda, peluang keberhasilan Indonesia menjadi lebih terbuka. Mengapa? Hal yang paling ditakuti pendaki-pendaki Everest adalah badai dahsyat yang dikenal sebagai Jet Stream Wind, dinamakan demikian karena suaranya konon menderu-deru bagai raungan pesawat jet dengan kecepatan mencapai 100 mil per jam. Badai ini akan menyebabkan suhu udara berubah drastis dan memicu terjadinya longsoran salju (avalanche). Sejarah mencatat, jika jalur selatan dihantam badai, maka jalur utara biasanya aman. Demikian pula sebaliknya. Maka Tim Indonesia berharap bisa mencuri sukses di antara dua jalur itu: kelak kita tahu bahwa badai dahsyat menghentikan pendakian Tim Utara―yang dimotori Gunawan Ahmad “Ogun” dari Wanadri)―pada ketinggian 248 meter di bawah puncak Everest.
***
Tim Selatan menginjakkan kaki di Base Camp Everest (5.300 m) pada 18 Maret 1997, dan segera memulai masa aklimatisasi, yaitu penyesuaian diri dengan suhu udara yang sangat ekstrim. Base Camp Everest masih kosong, tim-tim negara lain belum ada karena waktu favorit pendakian memang belum tiba. Dengan demikian, Tim Indonesia menjadi tim pertama yang mendaki Everest di musim pendakian 1997, ketika salju masih sangat tebal karena musim dingin baru saja akan berakhir. Selama dua minggu, mereka melakukan pendakian secara bertahap ke Camp I (6.100 m), Camp II (6.500 m), Camp III (7.300 m) dan Camp IV (7.980 m). Semakin ke atas, pendakian semakin berat karena kadar oksigen semakin tipis, sedangkan nafsu makan hampir hilang sama sekali. Tanpa proses aklimatisasi yang memadai, para pendaki bisa cepat terkena penyakit ketinggian. Ada dua jenis penyakit ketinggian yang sangat berbahaya, yaitu High Altitude Pulmonary Edema/HAPE (pembengkakan paru-paru akibat ketinggian) dan High Altitude Cerebral Edema/HACE (pembengkakan otak akibat ketinggian). Selain itu, ada pula resiko gigitan salju (frosbite) yang bisa memaksa seorang pendaki kehilangan jari-jari kaki dan tangannya.
Setelah hampir mencapai Camp IV, dan masa aklimatisasi dianggap cukup, Tim Selatan turun ke ketinggian 3. 867 meter untuk melakukan pemulihan (recovery) selama dua minggu, sebelum memulai summit attack (pendakian ke puncak) mulai 22 April 1997. Berdasarkan pemantauan dan ranking yang dibuatnya selama masa aklimatisasi, ketiga pelatih itu memutuskan bahwa hanya tiga orang yang akan mendapat kesempatan mendaki ke puncak Everest, dan ketiganya merupakan pendaki militer. Dengan demikian, setiap pendaki langsung didampingi oleh seorang pelatih. Ini dianggap penting mengingat para pendaki Indonesia bukanlah pendaki gunung profesional. Keputusan ini tentu saja sangat mengecewakan para pendaki sipil, terutama mereka yang masih merasa sanggup, seperti Galih Donikara (Wanadri) dan Ripto Mulyono (Mapala UI). Di saat-saat seperti inilah kekuatan sebuah tim ekspedisi diuji. Obsesi individu yang menggebu-gebu harus ditekan dan direlakan demi keberhasilan tim. Siapa yang tak ingin mencapai puncak setelah perjuangan yang begitu berat dan puncak sudah sangat dekat? Tetapi, dengan besar hati mereka bisa menerima kenyataa ini. Ripto Mulyono mengatakan bahwa “secara pribadi saya kecewa. Tapi saya menekan kekecewaan itu dengan berpikir lebih luas, bahwa ini demi merah putih!”
***
Ketika kita bergulung dalam selimut hangat dan kasur empuk pada dinihari 26 April 1997, Lettu Iwan Setiawan (29 th, Komandan Tim Selatan ), Sertu Misirin (31) dan Pratu Asmujiono (25), didampingi oleh Anatoli Boukreev, Vladimir Baskirov, Evgenie Vinogradsky, Appa Sherpa dan Dawa Nuru Sherpa, tertatih-tatih meninggalkan Camp IV di South Col (7.980 m). Mereka mulai memasuki ketinggian 8.000 meter yang dikenal sebagai zona kematian (dead zone). Langkah mereka menjadi sangat berat karena salju yang tebal membenam setinggi lutut, suhu udara pagi itu sekitar -300 Celcius. Mereka telah menggunakan tabung oksigen agar tetap bisa bernafas di ketinggian itu, masing-masing membawa dua tabung saat merambah lereng bersalju dengan kemiringan 75-80 derajat. Sebagai tim pertama yang mendaki pada musim itu, tim merekalah yang harus memasang lintasan tali menuju puncak, karena lintasan pendakian musim sebelumnya sudah rapuh dan terkubur salju. Dengan kondisi fisik yang kian menghawatirkan, perjalanan mereka menjadi semakin lamban. Ketiga pendaki Indonesia itu diperkirakan mencapai puncak pada pukul 15.00: waktu yang sangat terlambat, dan kemungkinan tersapu badai pada perjalanan turun menjadi sangat besar! Batas toleransi pencapaian puncak Everest adalah pukul 13.00. Puncak Everest sendiri bukanlah tempat yang nyaman bagi seorang manusia. Dalam buku Into Thin Air, Jon Krakauer memberi gambaran dengan menulis bahwa “pada ketinggian troposfer 29.028 kaki, sangat sedikit oksigen yang bisa masuk ke dalam otakku sehingga kapasitas mentalku sama dengan kapasitas mental seorang anak yang terbelakang. Dalam kondisi seperti itu aku hampir tidak bisa merasakan apa-apa kecuali rasa dingin dan lapar.”

Pada pukul 15.30, 26 April 1997, Pratu Asmujiono meneriakkan kalimat takbir (Allahuakbar) sambil menangis dan memeluk tripod yang merupakan penanda puncak Everest (8.848 m). Ia kemudian mengibarkan Merah Putih dan menyanyikan lagu Padamu Negeri, mengabaikan perintah Anatoli Boukreev yang menyuruhnya segera turun. Ketika Boukreev mangambil potret, Asmujiono membuka masker oksigennya: dalam gambar ia terlihat berdiri tegak di samping tripod Everest dengan memakai “baret merah,” kedua tangannya memegang bendera Indonesia. Pendakian Misirin terhenti karena ia terjatuh dan pingsan beberapa meter sebelum tripod, sedangkan Iwan Setiawan terhenti beberapa meter di bawah Misirin. Meskipun tidak sempat menyentuh tripod, Misirin dianggap telah mencapai puncak dan berhak memperoleh sertifikat sebagai summiter (orang yang berhasil mencapai puncak) Everest. Bagi Warga Indonesia dan Asia Tenggara, Asmujiono dan Misirin merupakan orang pertama dan kedua yang bisa mencapai tempat itu. Dan dalam daftar summiter Everest, nama mereka tercatat pada urutan ke-662 dan 663.
***
Terlambat sampai di puncak berarti harus siap menghadapi badai dalam perjalanan turun. Dan jika badai itu datang, jarang ada yang bisa selamat dari amukannya. Kenyataan inilah yang dihadapi tiga putra terbaik bangsa Indonesia yang belum selesai berjuang saat itu. Setahun sebelumnya, 10 Mei 1996, amukan Jet Stream Wind menewaskan beberapa pendaki yang tergabung dalam Adventure Consultant Guided Expedition dan Mountain Madness Guided Expedition dalam perjalanan turun yang terlambat. Kedua pemimpin dari dua tim ekspedisi itu―Rob Hall (Selandia Baru) dan Scott Fischer (USA)―tewas bersama beberapa anggota timnya: Andy Harris (Selandia Baru), Doug Hansen (USA), Yasuko Namba (Jepang).

Pada musim itu, ada pula beberapa pendaki dari tim lain yang meninggal sebelum dan sesudah 10 Mei. Karena banyaknya korban tersebut (12 orang), musim pendakian 1996 sering disebut sebagai “Everest 1996 Dissaster.” Tragedi tersebut tentu saja masih membayangi Anatoli Boukreev yang kini harus bertanggungjawab atas keselamatan Tim Indonesia, karena saat tragedi itu terjadi, ia berperan sebagai pemandu dalam Tim Mountain Madness. Kala itu Boukreev nekad menembus badai dan berhasil menyelamatkan beberapa nyawa, tindakannya kelak dikenal orang sebagai “the amazing rescue.”
Untungnya strategi pendakian Tim Indonesia telah disusun dengan mempertimbangkan hal paling buruk sekalipun. Berbeda dengan tim ekspedisi lain―yang akan langsung turun ke Camp IV setelah mencapai puncak―Tim Indonesia menyiapkan Emergency Camp di ketinggian 8.500 m. Sejak awal memang telah diperkirakan bahwa mereka tidak akan mampu turun langsung ke Camp IV. Meskipun memang tepat, keputusan untuk bermalam di ketinggian 8.500 meter merupakan hal baru yang dianggap gila dan tidak masuk akal.
Di Emergency Camp yang hanya terdiri dari sebuah tenda berukuran 1×1,25 meter, tiga pendaki Indonesia dan tiga pelatihnya berdesakan melewati malam yang sangat mencekam. Semua Sherpa sudah kembali ke Camp IV, karena tidak mau menanggung risiko untuk bermalam di zona kematian. Dua tabung oksigen yang ada di sana, yang sudah habis sebelum pagi tiba, digunakan bergiliran oleh Asmujiono, Misirin dan Iwan Setiawan. Melihat kondisi mereka yang demikian menderita, para pelatih tak lagi menggunakannya. Atas kehendak Tuhan, mereka mampu bertahan hidup di malam yang hampir mustahil dilalui itu. Keesokan harinya mereka melanjutkan perjalanan turun menuju Base Camp, dan tiba di sana pada 30 April 1997. Padahal saat mereka bermalam di Emergency Camp, pendaki-pendaki lain telah menganggap mereka tidak akan pernah kembali lagi.
Di Base Camp, putra-putra Indonesia yang mengawali pendakian di tengah kesangsian dan cibiran itu disambut meriah bagai pahlawan yang baru saja memenangkan pertempuran. Beberapa surat kabar terkenal di Nepal―seperti juga koran-koran di Indonesia―beramai-ramai memberitakan keberhasilan mereka. Sebuah mitos bahwa “orang-orang tropik yang miskin pengalaman mendaki gunung es tak mungkin mencapai puncak Everest” telah runtuh di tangan Indonesia!
***
Keberhasilan itu sangat pantas dikenang! Dari mereka kita bisa belajar tentang betapa pentingnya semangat, kerja keras, pengorbanan, ketabahan, keyakinan, mawas diri, profesionalisme, kebersamaan serta keikhlasan dalam mewujudkan suatu tujuan. Dan di atas semua itu, kita harus menyadari bahwa Tuhan telah mengatur segalanya, kita hanya bisa berserah diri dan berdoa. Nilai-nilai itulah yang diperlukan bangsa ini untuk bangkit dari keterpurukan dan mendaki ke puncak kejayaan. Keberhasilan pendakian Everest di Himalaya harus menjadi motivator bagi keberhasilan pendakian “Everest-Everest” lain yang menjulang tinggi dalam kehidupan kita. Ada baiknya jika mengingat dan merenungkan kembali apa yang pernah dikatakan Walter Bonatti (Italia): “aku percaya bahwa alam memiliki pelajaran dan dapat mengajar kita. Karena itu aku percaya bahwa gunung dengan segala keindahannya serta hukum-hukumnya merupakan sekolah yang terbaik bagi manusia.”

Sajak Seorang Pendaki


Menekuk lutut sang matahari
Melihat purnama sedang berkuasa
Di balik pohon gunung mengintip sunyi
Berselimut kabut beralaskan cemara           
Bermandikan keringat si anak gunung   
       Memikul berat menyambung hidup           Berhalangan bunga abadi malam           Menahan dingin kelopak'pun kuncupMendung hitam memangsa bulanMenikam bintang secara berlahanTangis langit menghantam cemaraMembuat lumpur di jalan setapak             Berjalan menekuk sambil merangkak             Meniti tangga ukiran alam             Air mata hangat menjadi dingin             Bercampurkan air hujanBulan letih dan membangunkan matahariBerganti menerangi bumiAnak gunung tersenyum menahan lelahMelihat lukisan alam yang begitu indah 
by:galih mountainer gasmot  21-juli-2011